Monday, 13 August 2012

CIRI-CIRI NIKAH MUT’AH DI SISI SYIAH RAFIDHAH – BAHAGIAN 3

Betapa keji dan kotor gambaran nikah mut'ah ala Syi'ah Rafidhah;
1. Akad nikah
Di dalam Al Furu' Minal Kafi 5/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan bahwa Ja'far Ash-Shadiq pernah ditanya seseorang: "Apa yang aku katakan kepada dia (wanita yang akan dinikahi) bila aku telah berduaan dengannya?" Maka beliau menjawab: "Engkau katakan: Aku menikahimu secara mut'ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah NabiNya, namun engkau tidak mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian dan demikian." Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik sedikit mahupun banyak." Apabila wanita tersebut mengatakan: "Ya" berarti dia telah redha dan halal bagi si lelaki untuk menggaulinya. (Al-Mut'ah Wa Atsaruha Fil-Ishlahil Ijtima'i hal. 28-29 dan 31)
2. Tanpa disertai wali si wanita
Sebagaimana Ja'far Ash-Shadiq berkata: "Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia redha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya." (Tahdzibul Ahkam 7/254)
3. Tanpa disertai saksi (Al-Furu' Minal Kafi 5/249)
4. Seseorang lelaki boleh menikah mut'ah dengan:
- wanita Majusi. (Tahdzibul Ahkam 7/254)
- wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara'i'il Islam hal. 184)
- wanita pelacur. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
- wanita penzina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini)
- wanita sepersusuan. (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini)
- wanita yang telah bersuami. (Tahdzibul Ahkam 7/253)
- isterinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli. (Al-Ibtishar 3/144)
- wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait. (Tahdzibul Ahkam 7/272)
- Sesama lelaki yang dikenali sebagai homoseks. (Lillahi... Tsumma Lit-Tarikh hal. 54)

Wallahhu aqlam
*Dari sumber - Membongkar kesesatan Syi'ah : Nikah Mut'ah, Senin, 04 April 2005 - 08:17:27 :: kategori Firqoh-firqoh Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 33/IV/II/1426H

Sunday, 5 August 2012

NIKAH MUT’AH DI SISI SYIAH RAFIDHAH – BAHAGIAN 2
Kebatilan dan kepalsuan kaum Syi'ah Rafidhah dalam menghalalkan nikah mut'ah dapat dibahagikan kepada tiga aspek kekejian;
Pertama, kitab-kitab yang telah telah dinukilkan oleh ulama-ulama Syiah seperti Ash-Shaduq di dalam kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih, dari Ash-Shadiq berkata: "Sesungguhnya nikah mut'ah itu adalah agamaku dan agama pendahuluku. Barangsiapa mengamalkannya maka dia telah mengamalkan agama kami. Sedangkan barangsiapa mengingkarinya maka dia telah mengingkari agama kami dan meyakini selain agama kami." Dalam halaman yang sama, Ash-Shaduq mengatakan bahwa Abu Abdillah pernah ditanya: "Apakah nikah mut'ah itu memiliki pahala?" Maka beliau menjawab: "Bila dia mengharapkan wajah Allah (ikhlas), maka tidaklah dia membicarakan keutamaan nikah tersebut kecuali Allah tulis baginya satu kebaikan. Apabila dia mulai mendekatinya maka Allah ampuni dosanya. Apabila dia telah mandi (dari berjimak setelah nikah mut'ah) maka Allah ampuni dosanya sebanyak air yang mengalir pada rambutnya."
Kedua, secara tidak langsung ulama-ulama Syiah telah mendakwa mereka mempunyai kedudukan yang lebih tinggi berbanding dengan imam-imam mereka sendiri.  As-Sayyid Fathullah Al Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish Shadiqiin 2/493 memperkecilkan kedudukan para imam mereka sendiri ketika berdusta atas nama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, bahawa Baginda bersabda: "Barangsiapa melakukan nikah mut'ah satu kali maka darjatnya seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua kali maka darjatnya seperti Al-Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka darjatnya seperti Ali Radhiyallahu Anhu, dan barangsiapa melakukannya sebanyak empat kali maka darjatnya seperti aku."
Ketiga, nukilan di atas adalah satu pendustaan yang dinisbahkan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam dalam menegakkan hujjah batil mereka.
Apa yang nyata adalah ulama-ulama Syiah begitu terserlah kesesatan mereka dengan menonjolkan hadith-hadith palsu dan yang tidak ada usul. Pendustaan yang terbesar adalah mengaitkan kemaksiatan mereka secara bersandarkan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam dan Imam Jaafar as Saddiq.
Wallahu ‘Aqlam

*Dari sumber - Membongkar kesesatan Syi'ah : Nikah Mut'ah, Senin, 04 April 2005 - 08:17:27 :: kategori Firqoh-firqoh Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 33/IV/II/1426H

Saturday, 28 July 2012

NIKAH MUT’AH DI SISI SYIAH RAFIDHAH – BAHAGIAN 1

Bagi kaum muslimin pernikahan yang sah menurut syariat Islam adalah merupakan jalan untuk menjaga kesucian diri dan nasab mereka dalam persoalan hubungan seks. Namun bagi puak  Syi'ah Rafidhah, perzinaan memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka. Bagaimana tidak, perzinaan telah dihalalkan dengan alasan agama iaitu secara nikah mut'ah. Sudah tentu saja mereka tidak redha kalau nikah mut'ah disamakan dengan perzinaan yang memang benar-benar diharamkan Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Tetapi inilah pada hakikatnya di sebalik nikah mut'ah ala Syi'ah Rafidhah.
Nikah mut'ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang tertakluk kepada perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memerlukan kepada wali dan saksi. Perceraian akan terjadi setelah tamat tempoh waktu dan tidak terikat dengan hukum perceraian dan warisan. (Syarh Sahih Muslim hadith no. 1404 karya An-Nawawi dengan beberapa tambahan)
Nikah mut'ah diperbolehkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam pada zaman permulaan penyebaran agama Islam sebagaimana hadith riwayat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Anhu dan Salamah bin Al-Akwa' Radhiyallahu Anhu "Bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut'ah." (HR. Muslim)
Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: "Telah sah bahwa nikah mut'ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadith-hadith yang sahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut." (Syarh Sahih Muslim hadith no. 1404 karya An-Nawawi)
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: "Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut'ah. Namun sekarang Allah Azza Wa Jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat." (HR. Muslim)
Adapun nikah mut'ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakr Radhiyallahu Anhu dan Umar Radhiyallahu Anhu, maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut'ah selama-lamanya. (Syarh Sahih Muslim hadith no. 1405 karya An-Nawawi).
Dalam beberapa riwayat yang sah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam, gambaran nikah mut'ah yang pernah dilakukan para sahabat Radhiyallahu Anhum dapat diperincikan seperti berikut:
1. Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. (HR. Muslim hadith no. 1404).
2. Tidak ada isteri atau hamba wanita yang ikut serta dalam perjalanan tersebut. (HR. Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1404).
3. Jangka waktu nikah mut'ah hanya 3 hari saja. (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no. 1405).
4. Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana terdesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk terus hidup. (HR. Muslim no. 1406).

*Dari sumber - Membongkar kesesatan Syi'ah : Nikah Mut'ah, Senin, 04 April 2005 - 08:17:27 :: kategori Firqoh-firqoh Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 33/IV/II/1426H



Friday, 23 March 2012

BLOGGER, DUNIA SIBER DAN MUFLIS AKHIRAT

Ledakan kecanggihan teknologi maklumat pada hari ini menyaksikan penyebaran maklumat tanpa sempadan dan mampu merentasi ke seluruh pelusuk benua secara pantas serta memungkinkan segala berita dikongsi oleh lebih ramai orang. Pelbagai bentuk maklumat yang disebarkan melalui media cetak dan media elektronik akan memberi impak yang positif kepada masyarakat sekiranya memberi manfaat dan begitulah sebaliknya. Keghairahan masyarakat berkomunikasi di alam maya menyaksikan percambahan laman-laman sosial ibarat cendawan tumbuh selepas hujan. Ramai yang ingin berbicara dan mahu dikenali sebagai penulis, wartawan, blogger, pengkritik sosial atau pembela masyarakat atas alasan hak-hak demokrasi. Lazimnya isu-isu sosial adalah menjadi mauduk pembicaraan di kalangan mereka yang merupakan kumpulan utama pengguna laman sosial. Kebebasan penyebaran maklumat di hujung jari yang telah disalahguna menyebabkan penyebaran maklumat secara tidak beretika tanpa mempedulikan dosa dan pahala. Medan laman sosial menjadi ruang penyebaran fitnah seluas-luasnya terutama dalam pembicaraan tentang politik. Bahasa kesat, lucah, maki hamun tidak lekang dalam gaya penulisan mereka. Tidak sedikit daripada mereka yang mendapat upah untuk menyelongkar kisah peribadi seseorang individu, membuka aib sesama teman seagama dan menyerang peribadi seteru mereka di khalayak ramai. Mereka hilang asas pertimbangan kerana menuruti hawa nafsu  dan bagi mendapat sedikit habuan dunia.

Sabda Rasullullah Sallallahi Alaihi Wassalam: “Tahukah kamu siapakah itu orang yang muflis?” Para sahabat menjawab, “Orang yang muflis ialah orang yang tidak ada dirham atau tidak ada harta benda”. Sabda Baginda: “Sesungguhnya yang muflis daripada umatku, dia akan datang pada hari Kiamat dengan solat, puasa dan zakat. Dan dia datang dengan dosanya mengutuk sifulan, dan dosa dia menuduh sifulan berzina, dan dosa dia telah makan harta sifulan, dan dia telah menumpahkan darah sifulan, dan dia telah memukul sifulan. Maka diberikan kepada fulan-fulan yang dia zalimi daripada kebaikannya. Jika habis kebaikannya sebelum diselesaikan segala kezalimannya, maka diambil daripada kesalahan-kesalahan orang yang dizaliminya dan dicampakkan ke atasnya. Kemudian dia dicampakkan ke neraka” (Riwayat Muslim, No: 2581)

Dalam blog ada kutuk, kutuk rapat tak pernah lihat...
Dalam blog ada fitnah, fitnah liwat tak pernah lihat...                                           
Dalam blog tuduh bunuh, tuduh bunuh tak pernah lihat... 
Dalam blog kata rasuah, kata  rasuah tak pernah lihat....
Dalam blog macam-macam ada...
Dalam blog macam-macam ada yang bisa menjadikan blogger muflis akhirat.

Sesungguhnya pembentukan sebuah blog bukanlah satu lesen untuk menyebarkan fitnah dan gossip. Takutilah muflis akhirat dek kerana pena yang tidak bermata.

Saturday, 7 January 2012

UMMATUN WASATA – DARI PERSPEKTIF AQIDAH – BAHAGIAN AKHIR


Posting yang lepas membandingkan aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah dengan Jahmiah dan Musyabbihah dalam soal sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manakala perbandingan dalam perkara  usaha dan natijah sesuatu perbuatan umat dengan Jabariah dan Qadariyah.

Murjiah mengatakan iman seseorang itu tidak naik atau tidak turun, iman itu mutlak dalam hati sahaja tidak ada kena mengena dengan amalan. Kemaksiatan yang dilakukan tidak memburukkan iman, justeru mereka menolak syariat seperti pakaian menutup aurat kerana bagi mereka iman dalam hati lebih penting. Iman Firaun dikatakan sama dengan iman malaikat. Manakala bagi aqidah Khawarij pula meletak pelaku dosa-dosa besar membuat seseorang itu menjadi kafir. Mereka mencari kesalahan pemerintah yang sah (Waliyul Umur) dan mengajak orang ramai untuk menyerangnya kemudian mencela pemerintah dan mengkafirkan mereka. Dalam aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah terdapat dua konsep iaitu kafir dan kufur di mana kafir mempunyai kaitan dengan hati (iktiqadi) manakala kufur melibatkan amali. Kufur tidak menyebabkan seseorang itu terkeluar imannya. Kemaksiatan seperti perbuatan zina, rasuah, minum arak, menghukum tidak menggunakan syariat itu adalah perbuatan kufur. Seseorang itu hanya terjerumus ke arah kekafiran bila mana beriktiqad sesuatu yang haram itu dikatakan halal dan dia faham dan dia bermaksud begitu.

Terakhir adalah Syiah  yang mendakwa Saidina Abu Bakar dan Umar al-Khattab serta ramai sahabat Radhiallahu Ajmain sebagai kafir. Sekaligus secara liciknya mereka menolak al-Quran dan hadis yang dihimpun atau diriwayat oleh Saidina Abu Bakar dan Umar al-Khattab Radhiallahu anhuma. Malah mereka mempunyai versi al-Quran yang dikenali sebagai mushaf Fatimah dan versi hadis yang dikenali sebagai al–Kulaini. Manakala Khawarij pula mengambil ayat-ayat al-Quran secara literal seperti “...dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [al-Ma’idah (5):44]. “...dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” [al-Ma’idah (5):45]. “...dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [al-Ma’idah (5):47]. Justeru mereka ghuluw dan mendahului batas-batas yang ditetapkan oleh agama. Dalam hal ini, Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah mengambil al-Quran dan hadis sebagai risalah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta mengamalkan mengikut kefahaman dan praktis oleh para sahabat Radhiallahu Ajmain yang dikenali sebagai golongan Salafus Soleh.

Mengambilkira fakta-fakta yang diketengahkan menampakkan bahawa aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah adalah sederhana dan berada  di tengah-tengah di antara dua aqidah yang ekstrim. Maka inilah manhaj yang benar yang mengambil Islam secara menyeluruh di mana manhaj ini mendahulukan wahyu berbanding akal. Taufik dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan mereka mengambil perintah dan pedoman  dari al-Quran tanpa tahrif (ubah), tanpa ilhad (tolak), tanpa takyif (gambarkan rupa bentuk), tanpa tamthil (umpama makna). Mereka juga menjalani kehidupan di dunia ini berdasarkan amalan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan golongan Salafus Soleh. Inilah ciri-ciri al-Firqatun Najiyah dan merupakan satu-satunya golongan yang selamat seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Wallahu a’lam.

Saturday, 31 December 2011

UMMATUN WASATA – DARI PERSPEKTIF AQIDAH – BAHAGIAN 2

Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah yang berteraskan al-Quran dan as-Sunnah serta sebagaimana yang kefahaman dan dipraktikkan oleh para sahabat Radhiallahu Ajmain dikatakan sebagai Aqidah Ummatun Wasata (Umat yang mempunyai pegangan aqidah pertengahan) kerana keberadaannya jelas tidak ghuluw dengan condong ke kanan atau ke kiri. Perbandingan aqidah golongan al-Firqatul Haarikah seperti Jahmiyah, Jabariyah, Qadariyah, Murjiah, Khawarij dan Syiah dengan Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah diperincikan seperti berikut:

Aqidah Jahmiyyah mengatakan bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bertempat dan mengingkari bahwa Allah di atas ‘Arsy dan menolak semua sifat Allah. Aqidah Mujassimah/Musyabbihah pula mengatakan bahawa sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu menyerupai sifat seperti makhlukNya. Atas dasar ini, mereka mendakwa bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mempunyai tangan, kaki, muka dan sebagainya lagi berdasarkan kefahaman mereka terhadap nas-nas mutasyabihat berbentuk sifat. Hal sedemikian dapat dilihat bagi kaum Nasrani yang menjadikan Nabi Isa Alaihissalam sebagai Tuhan dan kaum Yahudi menganggap Nabi Uzair Alaihissalam sebagai anak Tuhan (Lihat Surah at-Taubah: 30). Sedangkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah merupakan ajaran para Rasul di mana dalam aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah, kita beriman dengan khabar ghaibiyyah yang dibawa oleh para Pesuruh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Secara ringkasnya kita tidak tahu erti sebenar sifat itu, serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada serupa dengan makhluk. Imam Malik pernah ditanya “Bagaimanakah istawa Allah?”. Beliau menjawab, “al-Istiwa’ ghair Majhul (ertinya jelas penyebutan “istawa” dalam al-Qur’an), Wa al-Kayf Ghair Ma’qul (ertinya; istawa tidak boleh dimaknai dengan sifat-sifat benda), beriman dengan adanya “istawa” adalah kewajiban, menanyakan bagaimana istawa (Kayf istawa?) adalah bid’ah”.
Jabariah ialah nama golongan yang berfahaman bahawa setiap perbuatan itu datang daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hamba itu tidak berkuasa, tidak berkehendak dan tidak ada ikhtiar baginya sebaliknya menganggap yang sebenarnya melakukan perbuatan hamba itu ialah Allah. Mereka melampaui batas dengan menafikan adanya kemampuan bagi seseorang hamba dan menafikan ikhtiar. Mempunyai kaitan dengan Wahdatul Wujud, iaitu makhluk dan Tuhan boleh bersatu. Mereka mengambil ayat al-Insan:30 sebagai dalil dengan intisari “Tetapi kamu tidak mampu menempuh jalan itu, kecuali dikehendaki Allah”. Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak dicampuri oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahawa setiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya; mereka dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Mereka mengambil ayat ar-Ra’d:11 sebagai dalil dengan intisari “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri”. Bagi aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah, kedua-dua ayat al-Quran tersebut digunapakai kerana manusia diberi ikhtiar tetapi keinginan dan kemampuan ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti mereka berhajat hendak pergi ke suatu tempat di mana keinginan tersebut diilhamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manakala kemampuan untuk sampai atau tidak adalah ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga. Begitu juga mereka tidak diberi pilihan terhadap perkara yang telah diqadarkan seperti hayat umur atau dilahirkan sebagai bangsa dan keturunan tertentu.  Secara ringkasnya mereka boleh memilih usaha tetapi natijah tidak boleh ditetapkan oleh mereka. Justeru aqidah ini adalah di tengah-tengah yakni bermula dengan ikhtiar/usaha manusia manakala natijah/ketentuan adalah berdasarkan qada’ dan qadar  Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sunday, 18 December 2011

UMMATUN WASATA – DARI PERSPEKTIF AQIDAH – BAHAGIAN 1

Metodologi dan pendekatan dalam Islam adalah penting lebih-lebih lagi dalam aspek yang menyentuh akar tunjang agama iaitu aqidah. Ianya adalah kritikal sama ada kita memiliki aqidah yang benar sebagaimana manhaj Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah yang berteraskan al-Quran dan as-Sunnah serta sebagaimana yang kefahaman dan dipraktikkan oleh para sahabat radhiallahu ajmain.

Sebagai Ummatun Wasata (umat seimbang) kita diberi tanggungjawab untuk beriman kepada Allah dan RasulNya dengan sesuatu yang unik dan suci secara memaparkan mesej aqidah hakiki Islam yang berpaksi dengan Aqidah Ummatun Wasata (Umat yang mempunyai pegangan aqidah pertengahan). Inilah manhajnya dan kita tidak boleh kehilangan pendekatan dalam memahami aqidah yang benar ini. Ini penting kerana perkhabaran ini telah diberitahu oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hampir 14 kurun yang lalu;   

Dari Abi Hurairah radhiallahuanhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, "Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, nasrani terpecah menjadi 71 atau 72 golongan. Dan umatku terpecah menjadi 73 golongan. (HR Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibu Hibban dan Al-Hakim).

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah (agama), sementara umatku berpecah menjadi 73 millah (agama). Semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah." Sahabat bertanya, "Millah apa itu?" Baginda menjawab, "Yang aku berada di atasnya dan juga para sahabatku." (HR At-Tirimizi, Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)

Dua kelompok manusia yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wataala iaitu al-Umatul-Islamiyah (Umat Islam) dan al-Umatul-Kafiraah (Umat yang tidak beriman) seperti 
Yahudi, Nasrani, Sikh, Hindu, Buddha; dengan kata lain, mereka semua tidak beriman kepada Allah
Subhanahu Wataala. Ini termasuklah fahaman-fahaman yang menyimpang seperti Humanisme, Scientology dan isme-isme yang tidak ada usul yang jelas kekufuran golongan Al-Umatul-Kafiraah terhadap Allah Subhanahu Wataala.

Berdasarkan hadis di atas, dapat disimpulkan bahawa umat Islam terbahagi kepada dua iaitu Ummatu Muhammad (Umat Muhammad yang juga dikenali sebagai al-Firqatun Najiyah, atau golongan yang selamat) dan Ummatu Ahlul Qiblah (Umat Qiblah, dari tujuh puluh dua golongan yang menyimpang - juga dikenal sebagai al-Firqatul Haarikah). 72 golongan dari umat Islam akan masuk neraka (Hanya Allah
Subhanahu Wataala yang mengetahui tempoh masanya) dan satu golongan akan masuk syurga. Oleh itu sekiranya kita ingin selamat dari api neraka, maka kita harus mencari pengetahuan tentang golongan yang selamat dan mempelajari serta mengamalkan ciri-ciri al-Firqatun Najiyah.


Dalam masa yang sama kita juga hendaklah mengenali golongan al-Firqatul Haarikah dan ciri-ciri mereka. Nama-nama besar dalam golongan ini adalah seperti Jahmiyah, Jabariyah, Qadariyah, Muktazilah, Khawarij dan Syiah.  Mereka merupakan duri dalam daging bagi umat Islam sejak zaman awal kemunculan Islam lagi. Ini disebabkan pakej Islam yang dibawa oleh mereka menyelisihi ajaran Islam yang syumul. Malah mereka tidak segan silu mendakwa bahawa merekalah merupakan golongan Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah walaupun ada di kalangan mereka yang mengambil nas-nas al-Quran dan as-Sunnah secara terpilih dan tidak sebagaimana kefahaman dan praktik oleh para sahabat radhiallahu ajmain. Justeru, harus diingat bahawa Islam ini ada pemiliknya iaitu Allah Subhanahu Wataala, Tuhan Rabbul Jalil. Dialah yang akan menghancurkan perosak-perosak agama dengan azab siksaan yang amat pedih. Oleh itu maklumat lanjut mengenai Jahmiyah, Jabariyah, Qadariyah, Muktazilah, Khawarij dan Syiah akan diterangkan dalam posting yang akan datang. Wallahu a’lam.